Untung vs Rugi

Di Indonesia return (tingkat pengembalian) menjadi barometer akan keberhasilan sebuah bisnis, proyek dan investasi secara umum. Sebagai contoh, dalam berinvestasi pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita adalah, “bisa untung berapa?” Jarang di antara kita yang bertanya “bisa rugi berapa?”  Itulah sebabnya di Indonesia, money game yang menjanjikan untuk cepat, namun risiko yang besar sampai seluruh uang bisa hilang, sangat diminati masyarakat. Namun cara berpikir yang demikian bisa merugikan seorang investor. Sangat merugikan.

Mungkin yang masih cukup fresh adalah saham-saham yang bisa jatuh dari 9,000 rupiah menjadi 50 rupiah, sehingga investor kehilangan hampir seluruh uangnya. Ketika membeli, investor mungkin tidak melihat potensi kerugian yang begitu besar. Bagaimana dengan banyak kedok investasi yang menjanjikan untung besar (mencapai puluhan persen per bulan) namun tidak memperhatikan kemungkinan uang hilang? Kita tahu hasilnya banyak orang yang komplain ketika uang mereka habis.

Beberapa contoh yang relevan mungkin ada di bawah ini.

Asymmetric Downside and Upside

Sebuah investasi yang memberi untung sebesar 100%, akan menjadikan uang kita bertambah menjadi dua kali lipat. Sebuah investasi yang merugikan -100%, menghilangkan uang kita sama sekali! Tentu saja hal ini sangat berbeda. Untung 100% sangat berbeda dengan rugi 100%.

Ketidaksimetrisan antara untung dan rugi bukan semata-mata ketika untung ruginya pada kasus ekstrim -100% saja. Tetapi juga pada kasus yang tidak seekstrim kasus di atas. Sebagai contoh, jikalau seseorang investasi 100 juta rupiah dan telah rugi 50%, maka sisa uangnya adalah 50 juta rupiah. Untuk mengembalikan ke 100 juta rupiah, investasinya harus menggandakan uangnya atau sama dengan untung 100%. Tabel di bawah ini menyatakan return yang diperlukan untuk balik modal jika investasi tersebut rugi.

[table id=returnToPar /]

Dalam kasus yang sangat ekstrim, ketika seseorang rugi 90%, investasinya harus naik 10x lipat hanya supaya balik modal saja!

Bukan hanya hal tersebut. Jika sebuah investasi menguntungkan sebesar 50% misalnya, tidak perlu rugi sebesar 50% untuk kembali ke modal awal. Cukup rugi 33.33% saja. Tabel di bawah ini menyatakan rugi yang dibutuhkan untuk kembali ke modal awal sebelum berinvestasi setelah untung.

[table id=lossToPar /]

Dua kasus di atas mengatakan bahwa investor sebaiknya menilai untung dan rugi secara berbeda, rugi dan untung dengan persentase yang sama berefek yang sangat berbeda. Investor yang rasional akan melihat potensi kerugian di dalam seluruh proses investasinya.

Conclusion

Banyak investor mementingkan kinerja, return dan untung, dan mengabaikan risiko sebagai hal yang tidak terlalu penting. Akibatnya, saham gorengan pun terlihat sesuatu yang menarik, karena cepat untung (dan tentunya cepat rugi sehingga bisa menghilangkan investasi seseorang dengan sangat cepat). “Investasi” money game begitu diminati karena menjanjikan untung yang cepat tanpa mempedulikan bahwa seluruh uang investasinya bisa habis.

Artikel ini menjelaskan secara sangat singkat tentang pentingnya melihat risiko suatu investasi dari satu aspek. Investor yang cerdas adalah investor yang juga mempertimbangkan risiko ketika berinvestasi. Semoga artikel ini bermanfaat.

Facebooktwitterredditlinkedintumblrmail

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *